Senin, 14 Mei 2012

CERMIN




1.

di dalam cermin itu, 
aku melihat laut, ada badai 
gelombang, riak yang pecah 
kilat menghujam pucuk-pucuk ombak 
dan berderai menghantam karang 

tak juga kutemukan, di mana aku 

2. 

aku menyisir rambutku, 
ketika cermin itu pecah 
lalu senyummu itu, 
melukai, mendarahkan 
tiap jejakku di lantai ini 

3. 

cermin itu memantulkan cahayamu
menyilaukan, memendarkan bayang penuh warna 
memenuhi ruangmu, 
lalu kulihat rumi menari dengan tariannya 
entah itu di lapis warna atau cahaya 

katanya, siapa yang menarikan kita, 
engkau atau aku 

Sofyan Adrimen
Semarang, 9 Feb 012

http://www.bengkelpuisi.net

KEPADA ABAH



Abah... kutemukan sebutir kelereng 
bisakah kau menunjukkan satu lagi
atau mungkin ingin beli sekantung?
ah... terlanjur tabu, lupakanlah!

cukur saja kumis, jenggot juga jembutku
aku ingin telanjang, lari memanggil hujan 
aku benci petir, coba tanyakan pada cuaca
adakah tempat untuk sembunyikan gemanya
juga kilat yang membutakan mata 
tapi, siapa yang akan menemani?
teman-temanku sudah kawin
tak lagi rindu taman bermain

Abah, masihkah kau sanggup menggendongku
menapaki pematang sembari bersalawat nabi
terus melangkah ke arah magrib dan berkata
"di sana, di balik awan itu malaikat sedang berdoa"
"untukku?" dalam senyummu kutemukan diriku sendiri
: menghisap susu hitam dari puting zaman. lelap.

Muhammad Rois Rinaldi
Cilegon-Banten.
11-05-2012

http://www.bengkelpuisi.net

Kenapa Harus Setyowati, Madrim?




kesetiaan itu, madrim, bukan air mata melinang tulang jasad nasib
gunadarma di bawah relief candi buda yang dilukisnya sendiri, bukan!
bukan sendu pilu sinta mengiring perjalanan asing rama di hutan
dandaka, bukan! bukan pula warna-warni pelangi menabiri pagi
sehabis berhujan, bukan! kesetiaan bukan demikian, madrim!

seperti langgam asmarandana sidoasih, kesetiaan adalah langit
mewingit tulisan di daun lontar: jatayu binasa di tangan angkara
murka, dasamuka. demi? Tidak demikian, madrim!
jatayu tak hendak mengabdi karena kesetiaan bukan abdi, dan
bukan ketiak sorak serak rama-sinta. Tidak juga untuk menjadi
penyair, karena apalah arti sebuah kata yang nyinyir berlendir?

kesetiaan itu, madrim, dirimu, melanggam kidung wuyung
setyowati, menterjemah tawa cicak di langit-langit resah, tuan
mewangsit sengit:

biarkan setyowati melakoni bulan madu kedua, di dada
biar saja gemuruh luruh menjadi hujan semalaman, sebab
kesetiaan ibarat hujan, air membasah tanpa harus sebab!
lalu, kenapa harus setyowati, madrim?
Kenapa harus!

Puja Sutrisna, 05 Mei 2012

http://www.bengkelpuisi.net