Kamis, 17 Desember 2015
Senin, 14 Mei 2012
CERMIN
|
KEPADA ABAH
Abah... kutemukan sebutir kelereng bisakah kau menunjukkan satu lagi atau mungkin ingin beli sekantung? ah... terlanjur tabu, lupakanlah! cukur saja kumis, jenggot juga jembutku aku ingin telanjang, lari memanggil hujan aku benci petir, coba tanyakan pada cuaca adakah tempat untuk sembunyikan gemanya juga kilat yang membutakan mata tapi, siapa yang akan menemani? teman-temanku sudah kawin tak lagi rindu taman bermain Abah, masihkah kau sanggup menggendongku menapaki pematang sembari bersalawat nabi terus melangkah ke arah magrib dan berkata "di sana, di balik awan itu malaikat sedang berdoa" "untukku?" dalam senyummu kutemukan diriku sendiri : menghisap susu hitam dari puting zaman. lelap. |
Kenapa Harus Setyowati, Madrim?
kesetiaan itu, madrim, bukan air mata melinang tulang jasad nasib gunadarma di bawah relief candi buda yang dilukisnya sendiri, bukan! bukan sendu pilu sinta mengiring perjalanan asing rama di hutan dandaka, bukan! bukan pula warna-warni pelangi menabiri pagi sehabis berhujan, bukan! kesetiaan bukan demikian, madrim! seperti langgam asmarandana sidoasih, kesetiaan adalah langit mewingit tulisan di daun lontar: jatayu binasa di tangan angkara murka, dasamuka. demi? Tidak demikian, madrim! jatayu tak hendak mengabdi karena kesetiaan bukan abdi, dan bukan ketiak sorak serak rama-sinta. Tidak juga untuk menjadi penyair, karena apalah arti sebuah kata yang nyinyir berlendir? kesetiaan itu, madrim, dirimu, melanggam kidung wuyung setyowati, menterjemah tawa cicak di langit-langit resah, tuan mewangsit sengit: biarkan setyowati melakoni bulan madu kedua, di dada biar saja gemuruh luruh menjadi hujan semalaman, sebab kesetiaan ibarat hujan, air membasah tanpa harus sebab! lalu, kenapa harus setyowati, madrim? Kenapa harus! Puja Sutrisna, 05 Mei 2012 http://www.bengkelpuisi.net |
Langganan:
Komentar (Atom)